Modul 4
MODUL 4
Kontrol Aeroponik
1. Pendahuluan[Kembali]
Aeroponik merupakan salah satu teknologi budidaya tanaman modern yang
berkembang pesat karena mampu menghasilkan pertumbuhan yang lebih cepat, lebih
sehat, dan lebih efisien dibandingkan metode pertanian konvensional. Dalam
teknik ini, tanaman tidak ditanam menggunakan tanah, melainkan akar dibiarkan
menggantung di udara dan disemprotkan larutan nutrisi dalam bentuk kabut halus.
Dengan cara tersebut, akar mendapatkan suplai oksigen yang optimal serta
nutrisi yang lebih mudah diserap, sehingga pertumbuhan tanaman dapat
berlangsung secara maksimal.
Namun, keberhasilan sistem aeroponik sangat bergantung pada kondisi
lingkungan yang stabil, terutama intensitas cahaya dan ketersediaan air
nutrisi. Tanaman membutuhkan cahaya yang cukup untuk proses fotosintesis,
sementara akar harus selalu terjaga kelembapannya agar tidak mengering. Pada
praktiknya, masih banyak sistem aeroponik sederhana yang dikendalikan secara
manual, misalnya menyalakan lampu tumbuh secara berkala atau memeriksa
ketinggian air secara langsung di tandon. Cara ini tentu memiliki kelemahan,
karena membutuhkan perhatian terus-menerus dan berpotensi menyebabkan tanaman
stres ketika cahaya kurang atau ketika suplai air terlambat diberikan.
Dengan perkembangan teknologi elektronika, kini sistem aeroponik dapat
dirancang bekerja secara otomatis dan real-time menggunakan sensor-sensor yang
mampu mendeteksi perubahan kondisi lingkungan. Dalam proyek ini, dibuat sebuah Sistem
Kontrol Aeroponik Otomatis yang bertujuan menjaga dua aspek penting pertumbuhan
tanaman, yaitu pencahayaan dan ketersediaan air nutrisi.
Sistem pertama memanfaatkan sensor LDR (Light Dependent Resistor) yang
mampu mendeteksi intensitas cahaya. Ketika cahaya berkurang atau tidak
terdeteksi, rangkaian akan mengaktifkan indikator berupa LED sebagai tanda
bahwa tanaman membutuhkan penyinaran tambahan. Sebaliknya, jika cahaya cukup,
LED akan mati. Deteksi cahaya ini diproses menggunakan rangkaian penguat
berbasis op-amp UA741, transistor D882, dan relay sebagai pengendali output,
sehingga sistem dapat bekerja dengan lebih stabil dan responsif.
Sistem kedua menggunakan sensor
water level untuk memantau ketinggian air nutrisi di dalam tandon. Apabila air
berada di bawah batas tertentu, rangkaian otomatis akan mengaktifkan pompa air
untuk mengisi kembali, dan akan berhenti ketika level air sudah cukup. Rangkaian ini juga menggunakan konfigurasi
non-inverting op-amp, transistor D882, dan relay untuk mengendalikan motor
pompa secara otomatis.
Dengan adanya integrasi dua sistem kontrol ini, tanaman dalam sistem
aeroponik dapat tetap mendapatkan kondisi ideal tanpa perlu pengawasan
terus-menerus. Proyek ini bukan hanya bermanfaat bagi pengguna rumahan yang
ingin menanam secara modern, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran bagi
mahasiswa dalam memahami cara kerja sensor, op-amp, serta rangkaian kendali
berbasis elektronik.
Melalui perancangan dan pengujian alat ini, diharapkan tercipta solusi
otomasi sederhana yang efektif, efisien, dan mudah diterapkan untuk
meningkatkan kualitas dan keberlanjutan sistem aeroponik.
2. Tujuan[Kembali]
1.
Merancang sistem kontrol aeroponik yang mampu
mendeteksi intensitas cahaya dan ketinggian air secara otomatis menggunakan
sensor LDR dan water level sensor.
2.
Mengontrol proses pencahayaan dan suplai air
nutrisi secara otomatis melalui rangkaian op-amp, transistor, dan relay agar
tanaman tetap berada dalam kondisi optimal.
3.
Meningkatkan pemahaman tentang penerapan sensor
analog dan rangkaian penguat (op-amp) dalam sistem kontrol otomatis berbasis
elektronika.
4.
Menunjukkan penerapan teknologi sederhana namun
fungsional yang dapat membantu menjaga stabilitas lingkungan tumbuh tanaman
pada sistem aeroponik.
5.
Mengasah kemampuan praktis dalam merancang,
merakit, dan menguji rangkaian elektronika yang melibatkan sensor, komparator,
serta aktuator seperti LED dan motor pompa.
3. Alat dan Bahan [Kembali]
1. Sensor
- LDR
(Light Dependent Resistor)
Digunakan untuk mendeteksi intensitas cahaya yang
diterima tanaman.
- Water Level Sensor
Berfungsi untuk mendeteksi ketinggian air nutrisi
di dalam tandon aeroponik.
2. Komponen Penguat dan
Pemrosesan Sinyal
- IC Op-Amp UA741CP
Digunakan
sebagai komparator/penguat sinyal dari sensor LDR dan water level.
1.
Pin 1 – Offset Null
Untuk mengatur offset output. Biasanya tidak digunakan.
2.
Pin 2 – Inverting Input (IN–)
Input pembalik. Jika tegangan di pin ini lebih tinggi dari IN+, output akan
rendah (LOW).
3.
Pin 3 – Non-Inverting Input
(IN+)
Input tidak pembalik. Jika tegangan di pin ini lebih tinggi dari IN–,
output akan tinggi (HIGH).
4.
Pin 4 – V− / GND
Terhubung ke ground atau tegangan negatif.
5.
Pin 5 – Offset Null
Sama seperti pin 1, untuk kalibrasi.
6.
Pin 6 – Output
Keluaran op-amp, digunakan untuk menggerakkan transistor atau rangkaian
selanjutnya.
7.
Pin 7 – V+
Tegangan suplai positif untuk op-amp.
8.
Pin 8 – NC (Not Connected)
Tidak terhubung ke rangkaian internal, tidak
digunakan.
- Potensiometer
(5kΩ–100kΩ)
Berfungsi untuk mengatur nilai ambang batas
(threshold) komparator.
3. Komponen Switching dan
Output
- Transistor
NPN D882
Digunakan sebagai driver untuk mengendalikan
relay.
D882 adalah transistor NPN medium-power yang banyak digunakan sebagai driver relay, penguat arus, saklar DC, dan regulator sederhana. Transistor ini cocok digunakan pada rangkaianmu karena mampu menangani arus tinggi untuk mengaktifkan relay dan motor pompa.
Karakteristik
Utama
·
Jenis: NPN
·
Arus Kolektor Maks (IC): 3
A
·
Tegangan maksimum (VCEO):
30 V
·
Dissipasi Daya: 12.5 W
·
Gain arus (hFE): 30–300
(tergantung arus kerja)
·
Low saturation voltage →
Bagus untuk switching relay/motor agar panas rendah.
- Relay
Berfungsi sebagai saklar elektronik untuk
mengaktifkan LED atau motor pompa.
- LED
Digunakan sebagai indikator penyinaran pada rangkaian kontrol cahaya.
- Motor Air / Pompa Mini
Digunakan
sebagai aktuator untuk suplai air pada rangkaian kontrol level air.
4. Komponen Pasif
- Resistor
Sebagai pembatas arus dan pembentuk rangkaian pembagi tegangan.
Resistor adalah komponen Elektronika Pasif yang memiliki nilai resistansi
atau hambatan tertentu yang berfungsi untuk membatasi dan mengatur arus listrik
dalam suatu rangkaian Elektronika (V=I R).
Jenis Resistor yang digunakan disini adalah Fixed Resistor, dimana
merupakan resistor dengan nilai tetap terdiri dari film tipis karbon yang
diendapkan subtrat isolator kemudian dipotong berbentuk spiral. Keuntungan
jenis fixed resistor ini dapat menghasilkan resistor dengan toleransi yang
lebih rendah.
Cara menghitung nilai resistor:
Tabel warna
Gelang ke 1 : Coklat = 1
Gelang ke 2 : Hitam = 0
Gelang ke 3 : Hijau =
5 nol dibelakang angka gelang ke-2; atau kalikan 105
Gelang ke 4 : Perak = Toleransi 10%
Maka nilai resistor tersebut adalah 10 * 10^5 = 1.000.000 Ohm atau 1 MOhm
dengan toleransi 10%.
5. Sumber Daya
- Adaptor 5V & konektor
Sebagai suplai
daya untuk rangkaian sensor, op-amp, transistor, relay, dan penguhubung adaptor ke rangkaian.
6. Alat Pendukung
- Breadboard
Untuk
perakitan rangkaian.
- Kabel
Jumper / Kabel Penghubung
Untuk membuat koneksi antar komponen.
- Solder
& Timah
- Multimeter
Untuk pengukuran tegangan, arus, dan pengecekan sambungan rangkaian.
4. Dasar Teori [Kembali]
A.Water Level Sensor
Secara umum, sensor water level bekerja dengan
mendeteksi keberadaan air berdasarkan daya hantar listrik (konduktivitas). Air,
terutama air yang mengandung mineral, dapat menghantarkan arus listrik. Ketika
air menyentuh elektroda sensor, arus kecil akan mengalir di antara terminal
sensor. Arus ini kemudian menghasilkan tegangan keluaran yang dapat diolah
untuk menentukan posisi ketinggian air.
Dalam sistem kontrol tangki air, sensor ini biasanya memiliki
beberapa titik deteksi (low, medium, dan high).
- Titik
low mendeteksi jika air sudah berada di batas bawah, menandakan pompa
harus dinyalakan.
- Titik
high mendeteksi jika air sudah mencapai batas atas, menandakan pompa harus
dimatikan.
- Tegangan
dari masing-masing titik sensor dibandingkan dengan nilai referensi oleh
op-amp. Ketika perbandingan menunjukkan bahwa air telah mencapai batas
tertentu, op-amp akan mengaktifkan atau menonaktifkan
Spesifikasi Sensor Water Level
- Tegangan kerja 3,3–5 V DC.
- Arus kerja sekitar 10–20 mA.
- Keluaran
berupa sinyal analog atau digital.
- Rentang
deteksi 0–40 mm atau lebih tergantung tipe.
- Bahan
tahan air dan korosi.
- Suhu kerja 0–80°C.
- Akurasi ±2–5 mm.
- Memiliki tiga pin: VCC, GND, dan OUT.
- Dapat
digunakan dengan mikrokontroler seperti Arduino atau PLC.
Karakteristik Sensor Water
Level
- Mendeteksi
dan mengukur ketinggian air dalam wadah atau tangki.
- Bekerja
berdasarkan perubahan konduktivitas, tekanan, atau jarak permukaan air.
- Memiliki
beberapa jenis seperti pelampung, ultrasonik, kapasitif, dan konduktif.
- Menghasilkan
sinyal analog atau digital untuk sistem kontrol.
- Memiliki
akurasi dan sensitivitas tinggi terhadap perubahan level air.
- Terbuat
dari bahan tahan air dan korosi.
- Digunakan
pada sistem otomatis seperti tangki air, inkubator, dan irigasi.
B. Resistor
Resistor merupakan salah satu komponen elektronika pasif
yang berfungsi untuk membatasi arus yang mengalir pada suatu rangkaian dan
berfungsi sebagai terminal antara dua komponen elektronika. Tegangan pada suatu
resistor sebanding dengan arus yang melewatinya (V=I R).
Cara menghitung nilai resistansi resistor dengan gelang warna:
1. Masukkan angka langsung dari kode warna gelang pertama
2. Masukkan angka langsung dari kode warna gelang kedua
3. Masukkan angka langsung dari kode warna gelang ketiga
4. Masukkan jumlah nol dari kode warna gelang ke-4 atau pangkatkan angka
tersebut dengan 10(10^n)
Resistor di pasaran
C. Transistor D882
Transistor adalah sebuah komponen di dalam elektronika
yang diciptakan dari bahan-bahan semikonduktor dan memiliki tiga buah kaki. Masing-masing
kaki disebut sebagai basis, kolektor, dan emitor.
- Emitor
(E) memiliki fungsi untuk menghasilkan elektron atau muatan negatif.
- Kolektor
(C) berperan sebagai saluran bagi muatan negatif untuk keluar dari dalam
transistor.
- Basis
(B) berguna untuk mengatur arah gerak muatan negatif yang keluar dari
transistor melalui kolektor.
Transistor Bipolar terdiri dari dua jenis yaitu Transistor NPN dan
Transistor PNP.
- Transistor
NPN adalah transistor bipolar yang menggunakan arus listrik kecil dan
tegangan positif pada terminal Basis untuk mengendalikan aliran arus dan
tegangan yang lebih besar dari Kolektor ke Emitor.
- Transistor
PNP adalah transistor bipolar yang menggunakan arus listrik kecil dan
tegangan negatif pada terminal Basis untuk mengendalikan aliran arus dan
tegangan yang lebih besar dari Emitor ke Kolektor.
Rumus :
Karakteristik input
Transistor adalah komponen aktif yang menggunakan aliran
electron sebagai prinsip kerjanya didalam bahan. Sebuah transistor memiliki
tiga daerah doped yaitu daerah emitter, daerah basis dan daerah disebut
kolektor. Transistor ada dua jenis yaitu NPN dan PNP. Transistor memiliki dua
sambungan: satu antara emitter dan basis, dan yang lain antara kolektor dan
basis. Karena itu, sebuah transistor seperti dua buah dioda yang saling
bertolak belakang yaitu dioda emitter-basis, atau disingkat dengan emitter dioda
dan dioda kolektor-basis, atau disingkat dengan dioda kolektor.
Bagian emitter-basis dari transistor merupakan dioda, maka apabila dioda
emitter-basis dibias maju maka kita mengharapkan akan melihat grafik arus
terhadap tegangan dioda biasa. Saat tegangan dioda emitter-basis lebih kecil
dari potensial barriernya, maka arus basis (Ib) akan kecil. Ketika tegangan
dioda melebihi potensial barriernya, arus basis (Ib) akan naik secara cepat.
Karakteristik output
Sebuah transistor memiliki empat daerah operasi yang
berbeda yaitu daerah aktif, daerah saturasi, daerah cutoff, dan daerah
breakdown. Jika transistor digunakan sebagai penguat, transistor bekerja pada
daerah aktif. Jika transistor digunakan pada rangkaian digital, transistor
biasanya beroperasi pada daerah saturasi dan cutoff. Daerah breakdown biasanya
dihindari karena resiko transistor menjadi hancur terlalu besar.
Gelombang I/O Transistor
Konfigurasi Transistor
D. OP-AMP
Penguat
operasional atau yang dikenal sebagai Op-Amp merupakan suatu rangkaian
terintegrasi atau IC yang memiliki fungsi sebagai penguat sinyal, dengan
beberapa konfigurasi. Secara ideal
Op-Amp memiliki impedansi masukan dan penguatan yang tak berhingga serta
impedansi keluaran sama dengan nol. Dalam prakteknya, Op-Amp memiliki impedansi
masukan dan penguatan yang besar serta impedansi keluaran yang kecil.
Op-Amp memiliki beberapa karakteristik, di antaranya:
a. Penguat tegangan tak berhingga (AV = ∼)
b. Impedansi input tak berhingga (rin = ∼)
c. Impedansi output nol (ro = 0)
d. Bandwidth tak berhingga (BW = ∼)
d. Tegangan offset nol pada tegangan input (Eo = 0 untuk Ein = 0)
Rangkaian dasar Op-Amp
1. Rangkaian OP-AMP
Buffer/Voltage Follower
Penguat buffer (penyangga) adalah penguat sinyal yang
memiliki sinyal output yang sama dengan sinyal inputannya. Dengan kata lain
penguatannya bernilai satu (gain 1), dikarenakan sinyal inputnya sama persis
dengan output keluaran dari penguat buffer tersebut. Dari penjelasan tersebut
kita dapatkan persamaan untuk penguatan buffer ini yaitu :
Vout = Vin
Av Vout/Vin = 1
Dari persamaan tersebut bahwa rangkaian operasional
amplifier tidak memiliki faktor penguatan tegangan (Av = 1).
Karakteristik Penguat Buffer
a. Memperbesar / Menguatkan Arus
Walaupun tidak menguatkan tegangan, buffer dapat mengalirkan arus yang
lebih besar ke beban. Ini penting jika beban membutuhkan arus yang lebih besar
daripada yang bisa disediakan oleh sumber sinyal. Misal sebuah sensor hanya
mampu memberikan arus maksimal 0,5 mA namun beban yang harus digerakkan
membutuhkan arus 20mA. Dengan buffer sensor akan tetap bisa menggerakkan beban.
b . Impedansi input tinggi dan impedansi output rendah
Buffer memiliki impedansi input yang sangat tinggi dan impedansi output
yang sangat rendah. Dengan demikian, buffer dapat menerima sinyal dari sumber
dengan impedansi tinggi tanpa membebani atau menurunkan tegangan sumber, lalu
mengalirkan arus yang cukup besar ke beban dengan impedansi rendah di tahap
berikutnya.
c. Stabilisasi dan Isolasi sinyal
Buffer juga berfungsi sebagai stabilizer sinyal dan isolator, sehingga
gangguan atau perubahan pada beban tidak memengaruhi sumber sinyal
d. Mencegah Penurunan Tegangan (Voltage Drop)
Jika dua rangkaian dengan impedansi berbeda dihubungkan langsung, bisa
terjadi penurunan tegangan yang menyebabkan sinyal tidak dapat diteruskan
dengan baik. Buffer mencegah hal ini dengan menjadi penyangga di antara
keduanya, sehingga tegangan tetap terjaga.
2. Rangkaian Komparator OP-AMP
Dengan mengacu pada rangkaian komparator Op-amp di atas,
mari kita asumsikan bahwa VIN lebih kecil dari level tegangan DC pada VREF,
( AIN <VREF). Karena input non-inverting (positif) dari komparator
kurang dari input inverting (negatif), output akan menjadi RENDAH dan pada
tegangan supply negatif, -Vcc menghasilkan saturasi negatif dari output.
Jika tegangan input meningkat, VIN sehingga nilainya
lebih besar daripada tegangan referensi VREF pada input inverting,
tegangan output dengan cepat beralih TINGGI ke arah tegangan supply positif,
+Vcc menghasilkan saturasi positif dari output.
Jika tegangan input VIN menurun, sehingga
sedikit kurang dari tegangan referensi, output Op-amp beralih kembali ke
tegangan saturasi negatif yang bertindak sebagai detektor ambang.
Komparator tegangan Op-amp adalah perangkat yang outputnya
tergantung pada nilai tegangan input, VIN sehubungan dengan beberapa level
tegangan DC karena outputnya TINGGI ketika tegangan pada input non-inverting
adalah lebih besar dari tegangan pada input inverting, dan RENDAH ketika input
non-inverting kurang dari tegangan input inverting. Kondisi ini benar terlepas
dari apakah sinyal input terhubung ke input inverting atau non-inverting.
Kita juga dapat melihat bahwa nilai tegangan output sepenuhnya
tergantung pada tegangan power supply Op-amp. Secara teori karena Op-amp gain
loop terbuka tinggi, besarnya tegangan outputnya bisa tak terbatas di kedua
arah. Namun secara praktis, dan untuk alasan yang jelas itu dibatasi oleh rel
supply Op-amp yang memberikan VOUT = +Vcc atau VOUT = -Vcc.
Kami mengatakan sebelumnya bahwa komparator Op-amp dasar
menghasilkan output tegangan positif atau negatif dengan membandingkan tegangan
input terhadap beberapa tegangan referensi DC yang telah ditetapkan.
Secara umum, pembagi tegangan resistif digunakan untuk
mengatur tegangan referensi input komparator, tetapi sumber baterai, dioda
zener atau potensiometer untuk tegangan referensi variabel semuanya
dapat digunakan seperti yang ditunjukkan.
Tegangan Referensi Komparator
Secara teori, tegangan referensi komparator dapat diatur
antara 0v dan tegangan supply tetapi ada batasan praktis pada kisaran tegangan
aktual tergantung pada komparator Op-amp yang digunakan perangkat.
Konfigurasi dasar untuk komparator tegangan positif, juga
dikenal sebagai rangkaian komparator non-inverting mendeteksi ketika sinyal
input, VIN di atas atau lebih positif daripada tegangan referensi, VREF menghasilkan
output pada VOUT yang TINGGI seperti yang ditunjukkan.
Rangkaian Komparator
Non-inverting
Dalam konfigurasi non-inverting ini, tegangan referensi terhubung ke input
penguat inverting dengan sinyal input yang terhubung ke input penguat
non-inverting. Untuk menjaga hal-hal sederhana, kita telah mengasumsikan bahwa
dua resistor membentuk jaringan pembagi potensial adalah sama dan: R1 = R2 = R.
Ini akan menghasilkan tegangan referensi tetap yang setengah dari tegangan
supply, yaitu Vcc/2, sedangkan tegangan input adalah variabel dari nol ke
tegangan supply.
Ketika VIN lebih besar dari VREF, output komparator Op-amp akan jenuh ke
arah rel supply positif, Vcc. Ketika VIN kurang dari VREF, output
komparator Op-amp akan berubah status dan jenuh pada rel supply negatif, 0v
seperti yang ditunjukkan.
E. Sensor LDR
Modul Sensor LDR
Sensor LDR
Sensor Cahaya LDR (Light
Dependent Resistor) adalah salah satu jenis resistor yang dapat mengalami
perubahan resistansinya apabila mengalami perubahan penerimaan cahaya. Modul sensor cahaya bekerja manghasilkan
output yang mendeteksi nilai intensitas cahaya. Perangkat ini sangat cocok
digunakan untuk project yang berhubungan dengan cahaya seperti nyala mati
lampu.
Spesifikasi Sensor Cahaya LDR
1. Supply : 3.3 V – 5 V (arduino
available)
2. Output Type: Digital Output (0
and 1)
3. Inverse output
4. Include IC LM393 voltage
comparator
5. Sensitivitasnya dapat diatur
6. Dimensi PCB size: 3.2 cm x 1.4 cm
Modul sensor cahaya ini
memudahkan Anda dalam menggunakan sensor LDR (Light
Dependent Resistor) untuk mengukur intensitas cahaya. Modul LDR ini
memiliki pin output analog dan pin output digital dengan label AO dan DO pada
PCB. Nilai resistansi LDR pada
pin analog akan meningkat apabila intensitas cahaya meningkat dan menurun
ketika intensitas cahaya semakin gelap. Pada pin digital, pada batas tertentu
DO akan high atau low, yang dikendalikan sensitivitas nya menggunakan on-board
potensiometer.
• Input Voltage: DC 3.3V - 5V
• Output: Digital - Sensitivitas bisa diatur, dan analog
• Ukuran PCB : 33 mm x 15 mm
5. Prosedur Percobaan
Comments
Post a Comment